Memasuki pintu Makam Ki Ageng Panohan Harus Dengan Tidur Miring

REMBANG- Patrolipos.id

Memasuki pintu makam Ki Ageng Panohan harus dengan tidur miring,karena keberadaanya sangat sempit,dengan diapit pepohonan yang sangat besar dan akar-akaran yang kuat,barangkali inilah pintu makam waliyullah tersempit di nusantara ini yang selama ini kita ketahui bersama.

Makam Mbah Kyai Mauhammad Sholeh,atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ki Ageng Panohan kini jadi idola alternatif wisata religi bagi sarkub(sarjana kuburan),
Keberadaanya memang tidak asing lagi bagi masyarakat Rembang Jawa tengah dan para pecinta Wali Nusantara di Jawa ini,alasanya karena lokasinya sangat indah sekali,masih sepi dan jauh dari keramaian kota, bisa dibuat sarana untuk menenangkan hati dan pikiran.

Tidak sedikit kaum muslimin dari berbagai daerah yang berziarah di makam Mbah Ki Ageng Panohan ini,mereka berdatangan silih berganti,mulai dari Jawa tengah sendiri,Jawa timur,Jawa barat dan luar pulau, bila melewati kota Rembang,keselatan sekitar kurang lebih 20 km,tepatnya di Desa Panohan Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang,Jawa tengah.

Kyai.M.Muzakkin(Gus Zakky)Pengasuh pondok pesantren khusus rehabilitasi sakit jiwa dan narkoba Dzikrussyifa’ Asma’Berojomusti Lamongan Jawa timur,bersama santrinya-pun juga menziarahi makam Waliyullah Ki Ageng Panohan yang terkenal dengan karomahnya ini,

Menurut Gus Zakky,panggilan akrabnya,
“Kita datang kesini bukan berwisata,juga bukan ada kaitanya dengan urusan Karomahnya Mbah Wakiyullah,kita datang jauh-jauh dari Lamongan murni berziarah,
Ziarah kubur itu ajaran Rosulullah Saw, hukumnya Sunnah, tujuanya adalah agar ingat akan kematian,yang dilakukan dalam ziarah itu ya kirim do’a pada ahli kubur,dengan membaca Yasin dan tahlil,hanya begitu saja,tidak ada tujuan lain,semoga perjalanan spiritual ini mendapat ridho dari Allah SWT, “, Tuturnya dengan nada merendah,saat ditemui awak media di lokasi makam Mbah Ki Ageng Panohan,Rembang Jawa tengah,
(Ahad,26/01/2020).

Selain itu Kata Gus Zakky,Pria yang juga ketua umum JCW(Jatim Corruption Watch)Provinsi Jawa timur,dan Ketua BPAN RI(Badan Penyelamat Aset Negara Republik Indonesia) ini menambahkan,
“Ngalap barokah itu juga penting,kita ini bukan siapa-siapa,kalau tidak ikut rombongan waliyullah dan Rosulullah itu nanti diakherat mau ikut siapa,
Kita ziarah seperti ini menandakan kita cinta pada warostatul ambiya'(pewaris Nabi), dengan harapan agar kelak nanti kita bisa dikumpulkan bersama orang-orang yang Sholeh,seperti Waliyullah dan tentu bersama junjungan kita Nabi besar Muhammad Rosulullah Saw yang kita banggakan bersama”,
Ungkapnya.

Untuk mengenal lebih dekat siapa sebenarnya Mbah Ki Ageng Panohan yang dimakamkan di desa Panohan itu ?

Berdasarkan silsilah keturunanya, Mbah Muhammad Sholeh atau Ki Ageng Panohan ini, masih dzurriyah dari Nabi Muhammad Rosulullah dari jalur Sayyidina Husain putra Siti Fatimah, putri Nabi Muhammad SAW.

Hal itu tampak jelas dalam silsilah yang terpajang di Joglo Peristirahatan di selatan makam Ki Ageng Panohan.

Tembok prasasti di selatan Makam itu juga nampak silsilah, Mbah Kyai Muhammad Sholeh(Ki Ageng Panohan) merupakan keturunan Maulana Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan Sunan Gunungjati.

Makam Kyai Muhammad Sholeh berada di pemakaman umum Desa Panohan Kecamatan Gunem Kabupaten Rembang. Beberapa sumber menyebut, Mbah Sholeh merupakan keturunan Kanjeng Nabi Muhammad SAW generasi ke-26.

Untuk memasuki makam ini, peziarah harus melewati satu pintu yang hanya bisa dilewati satu orang sambil berjongkok,
Pintu makam tidak terbuat dari kayu maupun tembok, melainkan akar pohon yang telah membentuk seperti mulut goa.

Di dalam makam, lantai sudah berkeramik. Luasnya hanya mampu untuk menampung sekitar maksimal 20 peziarah.

Soal suasana jangan di ragukan lagi,sangat teduh dan asri,pokoknya enak dibuat riyadho atau menyepi untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, disekeliling makampun tak terhitung berapa banyak pohon besar yang rindang berdiri menghiasi lingkungan kompleks makam tersebut,dan jangan khawatir di lokasi makam sudah ada tempat wudzu,toilet,kamar mandi,dan peristirahatanya,jadi para peziarah yang ingin menginap akan terasa nyaman.

Awalnya makam Mbah Sholeh biasa saja, seperti makam yang lain pada umumnya. Belum ada Joglo maupun bangunan lainnya.

Setelah banyak masyarakat luar daerah berziarah ke tempat ini, masyarakat Desa Panohan mulai menata bangunan makam,

Makam yang semula ditumbuhi semak belukar dan tak terawat, disulap menjadi bersih dan asri sehingga peziarah lebih nyaman dan khusuk dalam berdoa.

Menurut cerita,
Mbah Sholeh bukanlah warga setempat melainkan pendatang dari Cirebon Jawa Barat.

Pada zaman kolonial, beberapa kiai dari Banten dan beberapa wilayah di Jawa Barat mengadakan perlawanan kepada penjajah,ketika terdesak mereka mundur dan mengasingkan diri untuk menghimpun kekuatan di Jawa Tengah.

Diantaranya adalah Mbah Sholeh bersama dua cantriknya Kiai Ali Mahmudi dan Kiai Abu Bakar. Selanjutnya, tiga tokoh ini merapat ke Lasem,dan dalam perkembangannya beliau juga menyebarkan agama Islam di wilayah Lasem Jawa tengah di bagian selatan.

Ketiga tokoh ini selain dikenal sakti mandraguna, mereka juga dikenal sangat ramah kepada siapapun, makanya mereka bisa diterima dimasyarakat dan sangat mudah dalam menyebarkan agama Islam.

Mbah Sholeh dimakamkan di Panohan (tengah), sedangkan dua cantriknya Mbah Ali Mahmudi dan Mbah Abu Bakar di makamkan di tempat terpisah yang juga masih berada di wilayah Desa Panohan.

Mbah Ali Mahmudi di sebelah barat,dekat jembatan Panohan dan Mbah Abu Bakar di sebelah timur pemukiman di Desa Panohan
pungkasnya.(MM/Kiki).

Bagikan :

Related posts

Leave a Comment