Istilah Baru Dan Protokol Bagi Pasien COVID-19 Masih Perlu Pembiasaan

Patrolipos.id, Probolinggo – Baru-baru ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia memperkenalkan istilah baru dalam penanganan kasus COVID-19. Istilah baru itu tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) RI Nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 Tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian COVID-19.

Menyikapi hal tersebut, Juru Bicara Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Probolinggo dr. Anang Budi Yoelijanto mengungkapkan kalau istilah baru dalam penanganan kasus COVID-19 itu sebenarnya obyektif dan menyesuaikan.

“Karena didalamnya, contohnya diistilah suspek itu sudah meliputi ODR (Orang Dalam Resiko), ODP (Orang Dalam Pemantauan) dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan). Kita tidak perlu langsung serta merta merubah semua, karena dengan istilah yang lama sebenarnya kita lebih bagus dan lebih spesifik,” ungkapnya.

Oleh karena jelas Anang, untuk sementara perlahan-lahan transisi dengan istilah baru itu, tapi buatnya itu tidak terlalu signifikan. Karena yang signifikan itu adalah protokol-protokol yang akan berlaku untuk pasien-pasien Corona sendiri.

“Contohnya ada beberapa yang dulu harus dilakukan swab. Orang konfirmasi harus dievaluasi dinyatakan sembuh kalau hasil swabnya dua kali negatif. Tetapi dengan protokol baru itu berubah sama sekali. Ini yang perlu nanti kita menata, membiasakan dan menginformasikan kepada jajaran supaya bahasanya sama. Karena itu berkaitan dengan tindakan yang akan kita berlakukan kepada seluruh masyarakat yang terdampak Corona,” jelasnya.

Menurut Anang, kalau sekarang protokol yang terbaru lebih fleksibel. Contoh satu saja, seorang yang konfirmasi positif maka yang bersangkutan dengan isolasi selama 10 hari sudah selesai dianggap sudah sembuh tanpa harus evaluasi swab lagi.

“Tapi sampai sekarang kita masih mencoba mengadopsi protokol yang lama sambil kita lakukan kajian-kajian yang ada. Karena tujuannya supaya seperti arahan Ibu Bupati terjaminnya kesehatan dari yang sakit dan terjaminnya terputusnya penularan untuk masyarakat yang lain,” tegasnya.

Anang menegaskan 10 hari diisolasi diasumsikan sembuh. Sementara pengalaman selama ini ada orang tidak hanya 10 hari, bahkan satu hingga dua bulan pengalaman pasien-pasien sebelumnya yang tidak segera hasil swabnya negatif.

“Ini perubahan yang signifikan, maka kami dari Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Probolinggo cukup hati-hati untuk mengadopsi protokol ini,” tambahnya.

Lebih lanjut Anang menambahkan yang pasti untuk Kabupaten Probolinggo masih akan dikaji. Kalau memang semuanya bisa siap dari perangkat dan fasilitas akan diterapkan. Untuk sementara pihaknya masih mencoba melakukan kajian-kajian.

“Secara prinsip kita akan mengikuti protokol dari Jakarta, tapi semuanya membutuhkan persiapan-persiapan. Untuk istilahnya dalam minggu-minggu ini akan kita lakukan penyesuaian, cuma masih perlu pembiasaan saja,” pungkasnya.

Bagikan :

Related posts

Leave a Comment